Bang Choi

TENTANG BANG CHOI

Chairoman Joewono Putro, politisi PKS yang berasal dari PONDOK GEDE merupakan ilmuwan dan peneliti yang telah mendedikasikan dirinya sejak lama dalam da’wah dan tarbiyah di Kecamatan Pondok Gede khususnya, dan berlangsung hingga kini. Saat ini, dia didapuk menjadi ketua DPD PKS Kota Bekasi periode 2010-2015 sesuai hasil keputusan Musda yang digelar pada 5-7 November 2010, selain juga menjadi ketua Fraksi PKS di DPRD Kota Bekasi.

Pria berkacamata ini, sebelumnya tidak pernah tampil di panggung politik. Ia dikenal sebagai tokoh di balik layar dan pemasok ide serta gagasan yang berkembang di PKS Kota Bekasi. Di internal, sejak tahun 1999 dirinya menjabat sebagai tim seleksi calon anggota dewan, termasuk mensetting penyebarannya di setiap komisi, 2004. Terakhir ia menjabat ditempatkan di Badan Pemenengan Pemilu dan Pilpres 2009.

Pernah mencicipi STAN (Sekolah Tinggi Akutansi Negara) Jakarta pada tahun 1987, ia memutuskan hengkang ke Universitas Indonesia Jurusan Teknik Mesin, karena merasa lebih cocok memperdalam ilmu keteknikan. Namun hanya satu tahun di Fakultas Teknik UI, ia akhirnya meneruskan studi ke Jepang sesudah mendapatkan beasiswa STMDP (Science &Technology Manpower Development Program) dari pemerintah RI pada tahun 1988. Selama delapan tahun ia belajar di Jepang, mulai International Student Institute di Tokyo, Gifu University di Gifu Prefecture, hingga program pascasarjana untuk bidang Thermal Engineering di Graduate School of Gifu University. Dia memang terobsesi belajar di luar negeri sehingga kesempatan belajar di Jepang tidak dia sia-siakan.

Pulang ke tanah air tahun 1997, ia langsung bekerja di BPPT. Tidak mau mendua dengan aktivitas partai, ia memutuskan untuk keluar dari PNS dan menjadi konsultan tehnologi industri sesuai dengan basic keilmuannya. Terakhir ia menjabat sebagai Manajer Business Development di PT. YKK AP Indonesia. Tuntutan profesionalisme di tubuh PKS, mendorongnya untuk lebih berkhidmat menyalurkan kontribusi pemikiran dan kiprah politiknya di lembaga legislatif, DPRD Kota Bekasi.

Latar belakang Engineernya membuatnya menjelma menjadi seorang politisi teknokrasi. Karena pada dasarnya politik adalah sebuah sistem, yang digerakkan oleh gagasan, ide dan nilai-nilai, serta dioperasionalkan dengan strategi yang cermat dan terukur. Maka kiprahnya di lembaga legislatif semakin mempertajam kapasitasnya sebagai problem solver, yaitu mencari solusi berbagai permasalahan sosial politik, perencanaan & penganggaran, serta  kebijakan publik demi tercapainya kemaslahatan masyarakat.

Di lembaga legislatif, saat menjadi Ketua Komisi 1 sekaligus Ketua Fraksi PKS, pada satu tahun pertama ia melakukan penguasaan masalah, terutama yang berkenaan dengan fungsi dewan dengan meningkatkan capacity building personil partai yang berjumlah 10 orang. Karena baginya, seorang anggota dewan sama dengan advokat masyarakat.

Kemudian mendorong reformasi di tubuh lembaga legislatif agar lebih fungsional dengan mengawal perencanaan tata tertib dewan sebagai petunjuk baku. Meskipun diakui bahwa hal ini sangat berat, mengingat banyaknya kepentingan yang ada didalamnya. Tapi dengan komunikasi politik yang baik semua bisa terlaksana.

Tahun kedua, ia akan mendorong reformasi birokrasi yang saat ini nyaris tidak ada perubahan dari tahun ke tahun. Sebab, ujung tombak pembangunan ada di tangan pemerintah daerah sebagai eksekutor program yang sudah disetujui oleh DPRD. Birokrasi, katanya, harus melakukan perubahan mainset melayani bukan sebagai penguasa yang minta dilayani. Unsur professional harus dikedepankan dengan menghindari kecenderungan politik.

Dan saat ini, mulai 2019. Chairoman diamanahkan untuk memimpin Parlemen Kalimalang. Ia telah dilantik sebagai Ketua DPRD Kota Bekasi periode 2019/2025. Dalam masa kepemimpinannya, ia bertekad untuk menjalankan fungsi legislatif dengan semangat perbaikan dan pembaharuan. Menghadirkan atmosfer parlementer yang lebih produktif, smart, egaliter dan berintegritas.

Memimpin parlemen di Kota Bekasi, tentu merupakan amanah yang berat. Namun berbekal pengalamannya, ia sudah menyiapkan beberapa program selama lima tahun ke depan. Di Jepang, menurutnya, dia diajarkan untuk merencanakan dan menjalankan program secara berkelanjutan dan terukur tingkat keberhasilannya. Dalam konteks politikpun dia akan melakukan hal yang sama.

Gemblengan pendidikan selama delapan tahun di negeri matahari terbit, ternyata tidak mengubah kepribadiannya menjadi individualis. Di tengah kesibukannya, ia masih menyempatkan diri berbagi ilmu diberbagai institusi pendidikan. Ia juga tetap mencurahkan perhatian kepada istrinya, Nashly Sahariah, dan keenam orang anaknya ; Musa Muhajir Haqqi, Harun Hawari Ash Shiddiq, Muhammad Alfi Salam, Nadhira Khairunnisa, Alya Syofa Wafiya dan Ibrahim Fitra Rahmani. Dia meyakini untuk membangun sebuah bangsa yang kuat, maka harus dimulai dari keluarga.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0